JADIKAN BUKU SEBAGAI LADANG UNTUK MEMBUNUH Oleh : Kang AS Muda

Iqro’ adalah perintah untuk membunuh kebodohan kita. Kata yang sudah banyak dilupakan oleh kaum pemuda. Lebih banyak nongkrong hura-hura dari pada memaksakan diri untuk membaca. Sedangkan Buku adalah kapak pemecah yang bisa mencairkan lautan kebodohan yang membentang di dalam jiwa kita.

Alangkah indahnya hidup bila kita warnai dengan pernak pernik buku bacaan yang selalu kita baca insya Allah mencerdaskan. Buku adalah sarana untuk kita mengenal dunia, membuka gerbang pengetahuan dunia, sarana membunuh kebodohan diri yang selama ini membelenggu dalam diri. Jangan mau dibelenggu oleh kebodohan yang menyesatkan. Buanglah jauh-jauh rasa kemalasanmu, jangan biarkan mengendap menjadi penyakit kronis yang dapat menggrogoti seluruh bagian otak sehingga tak mau lagi berfikir.

Membaca adalah kegiatan yang sangat positif untuk terus dilakukan. Dengan membaca kita bisa menambah wawasan dan mendapatkan informasi-informasi baru yang berguna bagi kita. Jendela keilmuan akan terbuka melalui membaca. Jika berani untuk memaksa diri untuk membaca, maka sedikit demi sedikit pengetahuan itu akan datang dengan sendirinya.

Melatih kebiasaan membaca bacaan yang baik-baik akan membentuk pola berpikir kita menjadi tertata, sistemis dan genius. Untuk itu kita harus rajin-rajin membaca buku-buku yang bagus dan berkualitas serta memberikan bermanfaat positif bagi kehidupan ini. Mencerdaskan anak bangsa untuk membuktikan bahwa Indonesia tidak lagi berada diurutan terbawah dalam hal membaca.
Mari membaca…

Advertisements
Featured post

JALAN DAKWAH, JALAN PARA NABI DAN RASUL

Oleh : Cartono

Jalan lurus namun terjal
Jalan indah namun penuh godaan
Jalan selamat namun sepi peminat

Jalan dakwah bukan jalan keramaian
Jalan dakwah bukan jalan kenyamanan
Jalan dakwah bukan jalan datar tanpa tantangan

Tapi jalan inilah yang dipilih dan ditempuh oleh para nabi dan rasul serta pengikutnya. Sebagaimana firman Allah Swt (yang artinya), “Katakanlah, inilah jalanku; aku menyeru kepada Allah di atas landasan ilmu yang nyata, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…(Qs. Yusuf: 108).

Disaat orang lain mengejar kesenangan duniawi semata; harta, tahta dan cinta sebagai tujuan utama.

Tapi rijaludakwah mengabdi kepada ilahi, memikirkan apa yang harus diperbuat untuk umat, berbagi manfaat dan berseru pada syariat.

Perhatikanlah generasi para sahabat. Generasi yang Allah juluki sebaik-baik umat. Dengan berdakwah kepada Allah yang memerintahkan kepada kebaikan dan mengingkari kepada kemungkaran menjadi sebab sebaik-baik umat dan sebaik-baik generasi.

Sebagaimana firman Allah Swt (yang artinya) ” kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (Qs. Ali-Imron).

Allah Swt sudah melabelkan kaum mukminin menjadi umat yang terbaik. Umat yang terdiri dari orang-orang yang memiliki tujuan merubah suatu pola pikir masyarakat yang jahil terhadap agamanya menjadi masyarakat yang mengerti islam.

Maka tak heran orang-orang yang berdakwah adalah makhluk yang paling mulia diantara hamba-hambaNya. Ibnu Qoyyim berkata: ” Disandarkannya kata Da’i yang berdakwah kepada Allah (dakwah ilallah) adalah karena spesifikasinya, yaitu para Da’i yang khusus menyeru kepada agama Allah, beribadah kepadaNya, bermakrifat dan mahabbah kepadaNya, mereka itu adalah khawash khalqillah (makhluk yang istimewa), yang paling tinggi kedudukan dan nilainya di sisi Allah”.

Wallahu A’lam Bishowab

Jujur harga mati

Assamualikum Wr. Wb, tak terlalu banyak yang ingin saya sampaikan mengenai jujur. Banyak dari kita pada saat kecil di ajarkan oleh lingkungan orang tua, sekolah formal maupun non formal mengenai sifat jujur. Banyak contoh yang sering di berikan oleh para orang tua yang ada di sekitar kita seperti tidak boleh berkata bohong pada saat berucap, selalu menyampaikan tentang keadaan yang sebenarnya pada saat suatu peristiwa terjadi di hadapan mata kepala kita. Akan tetapi, pada saat meranjak dewasa lebih tepatnya usia antara usia SMA hingga kuliah saat ini kata jujur mulai salah diartikan oleh saya pribadi. Ada dua faktor yang cukup membuat kata jujur yang saya alami saat ini mulai berubah tidak sesuai dengan yang diajarkan pada saat waktu kecil dulu, faktor pertama tekanan dari lingkungan sosial, dan kedua ialah tekanan dari organisasi atau lembaga.

Faktor pertama, jika dilihat dari segi antropologi bahwasannya manusia memang tidak pernah lepas dari suatu aturan atau kebudayaan tertentu, entah kenapa kebudayaan tersebut menekan suatu sosok manusia. Kebudayaan muncul akibat dari interaksi manusia yang dilakukan secara kontinyu, dari definisi tersebut sudah jelas bahwa kebudayaan manusia muncul memang dari adanya manusia di muka bumi ini. Saya beranggapan bahwa memang di dunia ini pasti ada sisi positif dan negatif, hal ini jelas karena memang manusia dan segala isinya yang ada di dunia ini di ciptakan demikian seperti adanya siang dan malam, hitam dan putih, pria dan wanita, dan sebagainya yang pasti setiap apa yang ada di dunia ini ada penetralisir suatu keadaan tertentu. Kembali pada topik utama kenapa saya merasa bahwa sosial yang ada di lingkungan kita secara tidak langsung memberikan sedikit tekanan yang tanpa kita sadari kita mengikuti hal tersebut, contoh kecil kita di perintahkan untuk sekolah untuk dapat memperbaiki kehidupan seorang manusia melalui pendidikan, akan tetapi jika meilhat realitas yang nyata bahwa dalam mengapai gelar akademis yang ada di lingkungan akademis mudah saja didapatkan dengan uang yang tentu fenomena ini sering terjadi di lingkungan kehidupan kita. Contoh lain yang cukup memberikan tekanan pada seorang manusia seperti saya yang masih belum jelas statusnya antara usia anak-anak dan dewasa ialah mengenai sekali lagi mengenai pendidikan, pekerjaan setelah lulus, menikah, rumah, harta, dan sebagainya yang jujur jika saya boleh mengungkapkam bahwa hal tersebut sedikit membuat pikiran seorang manusia seperti saya merasa tertekan karena saya pribadi masih sangat ingin belajar dan tentu jalan-jalan pastinya menikmati ciptaanNya, hehe. Akan tetapi, dari sisi positif yang ada ialah dari tekanan tersebut mengajarkan pada saya pribadi bahwa memang hal tersebut bertujuan agar dapat menghindari dari apa yang disebut dengan pelencengan sosial yang jelas bahwa kegiatan seperti free sex, narkoba, minuman keras, dan sebagainya memang tidak baik untuk diri kita dan juga lingkungan sosial yang di sekitar kita.

Sisi negatif yang cukup membuat saya pribadi berpikir ulang mengenai kejujuran ialah mengenai suap-menyuap, saya berpikir bahwa suap-menyuap boleh dilakukan asalkan cocok dengan sebuah keadaan tertentu, seperti pada saat membuat SIM C yang memang cukup sulit untuk lolos dalam tes tersebut. Akan tetapi, saya merasa bahwa seluruh kegiatan suap-menyuap ini memang tidak baik untuk dilakukan karena akan menumbuhkan sifat korupsi dari kecil, tapi sekali lagi bahwa kegiatan suap-menyuap pada saat pembuatan SIM C tersebut memang membuat saya berpikir ulang, yang salah pemikiran saya atau kah memang sistem sosial yang sudah ada dari dulu seperti itu dan jelas karena saya sekarang masih berstatus mahasiswa yang di haruskan kritis, saya pun beranggapan bahwa “jangan-jangan, banyak sekali kasus yang lebih besar yang terjadi di kalangan birokrasi pemerintahan yang sudah terjadi akan tetapi di biarkan saja oleh pemerintah?”, itu hanya pemikiran pendek saya saja mengenai suap-menyuap yang terjadi dalam kehidupan saya. Dan satu pertanyaan saya, dimanakah letak kejujuran yang ada? Ini hanya spekulasi saya saja tanpa ada sebuah penelitian yang benar-benar membuktikan sebuah data yang dapat di pertanggung jawabakan.

Faktor kedua ialah organisasi atau lembaga, faktor kedua sudah jelas bahwa jikalau kita berada di suatu organisasi ataupun lembaga kita di tuntut harus memenuhi seluruh kriteria yang telah di tentukan organisasi atau lembaga tersebut, contoh kecil yang sangat membekas dalam diri saya pada saat saya di SMK yang memang dituntut harus bekerja keras dan berpenampilan menarik, saya pribadi merasa risih karena saya adalah tipekal orang yang berpenampilan apa adanya tidak terlalu suka yang berlebihan apalagi berpenampilan agar orang lain dapat memuji dari baju dan aksesoris yang kita pakai, saya pada saat mengeyam pendidikan tersebut sering dimarahi oleh guru karena pasti saya selalu berpenampilan yang istilahnya kurang enak dilihat. Terlebih pada saat masuk di suatu organisasi atau lembaga yang ada di sekolah ataupun kuliah, yang tanpa sadar kita di suruh untuk berpenampian sesuai dengan kegiatan eksternal yang kita ikuti, seperti pramuka yang harus memang berpenampilan gagah, bijaksana, dan tegas, sedangkan anak rohis yang identik dengan penampilan muslim seperti memakai kopyah, berjenggot, berkumis tipis, dan jelas bahwa harus memiliki pemikiran yang berorientasikan pada akhirat, dan yang paling menonjol ialah anak pencinta alam yang sangat berbeda dengan yang lain yaitu berpenampilan apa adanya bahkan kayak orang jarang mandi karena tidak pernah berpenampilan yang rapi, akan tetapi banyak cowok dan cewek ganteng dan cantik pada organisasi seperti ini, hehe.

Organisasi atau lembaga yang mempengaruhi penampilan seseorang juga jelas mempengaruhi pemikiran seseorang. Entah kenapa pada saat kita berada di organisasi dan ada yang istilahnya sedikit menyindir organisasi yang kita ikuti kita secara tidak langsung merasa bahwa hal tersebut tidak benar, apakah mungkin karena rasa kekeluargaan yang sudah terbangun di organisasi yang mengakibatkan kita merasa demikian?, ataukah ada faktor lain?. Yang paling membuat saya merasa sedikit tertekan ialah pada saat ada seseorang yang mengetahui keburukan organisasi yang kita ikuti maka secara spontan kita membela bahkan meskipun keburukan dan kesalahan yang sudah tampak di hadapan mata kita dengan tanpa menyerah membela organisasi yang kita ikuti, meskipun kita sedikit melebih-lebihkan dari organisasi yang kita ikuti. Apakah ini pembelaan? Pencitraan? Atau bagaimana?, karena menurut saya pribadi bahwa setiap manusia, organisasi, lembaga, bahkan pada tingkat yang paling tinggi sekali pun seperti pemerintahan pasti memiliki keburukan masing-masing, tulisan ini tidak ada unsur doktrin bagi setiap pembaca hanya saja letak kejujuran yang secara esensialnya dimana? Apakah jujur yang kita lakukan hanya di lakukan sesuai konteks saja? bagaimana jujur yang kita pelajari pada saat kecil dulu? Kenapa hal ini terjadi? Beberapa pertanyaan tersebut masih sedikit membuat saya berpikir ulang apakah kata jujur hanya di buat oleh manusia agar dapat memberikan suatu kebangaan seorang manusia?. Saya sudah sedikit menemukan jawaban bahwa memang dunia yang kita tinggali ini secara empiris tidak ada keadilan yang mutlak untuk setiap fenomena yang terjadi. Akan tetapi, jelas bahwa memang kepercayaan kita pada Tuhan di uji apakah kita hanya mendengarkan pujian manusia semata atau kah yang lain, yang jelas bahwa jujur harga mati.

Salam literasi.

Heru Desembri

Sebuah Perjalanan, 08 Jun. 18

Pulang Kampung, Mana Kampungmu?

Oleh : Penikmat Kopi Hitam

Baru baru ini saya membaca sebuah tulisan menarik. Isi tulisan tersebut ialah tentang pulang kampung atau biasa disebut juga mudik. Di dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa setiap kali kita pulang kampung, tentu akan mempersiapkan segalanya. Mulai dari tiket bis, pakaian, uang dan lain-lain. Kita akan mempersiapkan kepulangan kita itu dengan sebaik mungkin.

Semua orang menyiapkan pulang kampungnya selengkap mungkin. Padahal harusnya kematianlah yang harus kita siapkan selengkap mungkin. Itu karena kematian adalah pulang kampung yang sesungguhnya. Kurang lebih seperti itulah isi dari tulisan yang baru saya baca.

Saya tidak ingin membahas apa yang harus dipersiapkan dalam kepulangan itu. Karena dalam tulisan yang saya baca juga sudah menjelaskan apa saja yang perlu disiapkan. Selain itu juga ada banyak orang yang menjelaskan apa saja yang perlu disiapkan untuk kepulangan tersebut. Maka dari itu saya ingin membahas hal lain yang sepengetahuan saya masih jarang yang membahasnya. Untuk memulainya, saya ingin mengajukan pertanyaan “kemanakah kita pulang?”

Ya, kemanakah kita akan pulang? Ada istilah yang menyebutkan “malu bertanya sesat dijalan, salah bertanya sesat tujuan.” Pertanyaan “apa yang harus dipersiapkan dalam kepulangan kita” tidaklah salah, tetapi maksudnya adalah dahulukan dulu apa yang kita tuju. Setelah itu baru menyusun apa saja yang kita butuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Ini bertujuan agar kita dapat meminimalisir kesalahan. Seperti saat membuat garis lurus, maka tentukan dahulu dimana titik awal (posisi kita) dan titik akhir (tujuan), barulah dapat membuat garis lurus. Bukannya dari titik awal kemudian mulai menggaris sambil mencari dimana titik akhir berada.

Kembali ke pertanyaan kemanakah kita pulang? Apakah alam akhirat atau bisa disebut juga dengan surga? Apa benar bahwa kampung halaman kita adalah surga? Memang benar bahwa Nabi Adam dan Siti Hawa yang merupakan nenek moyang manusia terlahir (diciptakan) dan ditempatkan di surga. Tapi kemudian mereka diturunkan ke bumi dan berketurunan di bumi, bukan di surga. Maka dari itu, kampung halaman tempat kita pulang bukanlah surga.

Kalau bukan surga lantas kemanakah kita pulang? Jawabannya terdapat dalam kalimat tauhid “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Benar, kita itu berasal dari Allah, dan kepada Allah lah kita kembali. Hidup kita berasal dari Allah, yaitu saat ditiupkan oleh-Nya ruh kepada jasad kita. Maka dari itu, kepada-Nya juga kita akan kembali.

Maka dari itu, semua persiapan kepulangan kita adalah untuk bisa sebaik mungkin kembali kepada Allah. Allah lah yang menjadi tujuan utama kita. Kepada Allah lah kita mendasarkan segala perbuatan kita. Jangan sampai kita salah dalam mendasarkan amal ibadah. Ibadah itu untuk Allah, bukan untuk mendapatkan surga. Ibadah itu pengabdian kepada Sang Khaliq, bukan karena hasrat menginginkan surga. Surga hanyalah bonus, bukan tujuan utama. Allah lah yang harus diutamakan.

Saya teringat dengan perkataan Ranchoo dalam film 3 idiots, ia mengatakan “kejarlah kesempurnaan, dan kesuksesan akan menghampirimu.” Jika boleh perkataan tersebut dirubah, maka “kejarlah Allah, maka dunia dan akhirat akan menghampirimu.”

#Rrr

Pulang Kampung, Kah?

Yup akhirnya jadwal untuk pulang kampung telah tiba. Hari ini memang jadwal perkuliahan di kampus telah usai, lebih tepatnya berakhir kemarin.

Mahasiswa yang notabene perantau (kecuali yang berdomisili di sekitar Jabodetabek) terlihat sibuk mempersiapkan berbagai barang yang nantinya akan dibawa pulang. Pakaian kah, alat elektronik kah, tugas tugas kah (karena masih ada projek yang belum selesai), atau oleh-oleh. Mungkin ada yang butuh waktu hanya 30 menit untuk mempersiapkannya, ada pula yang semalaman suntuk digunakan untuk mempersiapkan barang bawaan yang kadang melebihi kapasitas tas yang dipakai.

Hari ini pun jalanan kampus atau sekitar kampus selain jalan raya terlihat lenggang. Biasanya jalanan diisi oleh mahasiswa lalu lalang menuju kpus dengan santai atau tergesa-gesa. Mang sebagian mahasiswa lebih memilih memakai “jatah bolos” mereka untuk beberapa mata kuliah untuk pulang lebih cepat, ada pula yang dengan patuh mengikuti setiap rangkaian kuliah sampai selesai.

Suatu hari, jauh sebelum hari ini, aku mendapat sebuah nasehat dari seorang teman. Saat itu juga merupakan masa liburan, sekaligus menjadi masa kepulangan mahasiswa.

“Persiapan untuk mudik itu banyak banget ya, lengkap banget. Pakaian ganti lah, oleh oleh lah, jajanan lah biar nggak lapar.” Ujarnya.

“Harusnya persiapan untuk meninggal itu lebih banyak dan lebih lengkap daripada itu. Karena hidup di dunia hanya sekali, masa menabung amal pun hanya sekali. Kalau tidak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dan semaksimal mungkin, kita bisa merugi selamanya” Lanjutnya.

Aku waktu itu hanya mengiyakan. Memang, di antara semua proses kehidupan ini, kehidupan di dunia adalah yang paling singkat, sedangkan kehidupan di akhirat itu panjang, bahkan selamanya. Sedangkan, baik tidaknya kehidupan di akhirat ditentukan dari kualitas kehidupan dunia kita. Kehidupan dunia yang diisi oleh kebaikan dan amal shaleh akan mendapatkan kehidupan akhirat yang nyaman dan tenang, sedangkan kehidupan dunia yang diisi oleh kejahatan dan maksiat akan mendapatkan kehidupan akhirat yang menyakitkan.

Maka bagaimana persiapan mudik kita ke kampung halaman di akhirat, sudah lengkap kah?

-Bocah-

PEREMPUAN – PEREMPUAN HEBAT

Oleh : Cartono

“Aku Malu Jika Tidak Berada di Garis Depan untuk Bangsaku”

Kalimat di atas adalah kalimat terakhir Razan Al-Najjar seorang relawan medis Palestina yang menjadi korban kekejaman pasukan Israel ketika dirinya bertugas di garis depan membantu dan menyelamatkan korban demonstrasi Palestina.

Rakyat Palestina terus menyuarakan dan menyerukan hak-hak mereka untuk kembali ke rumah sejak mereka di usir pada tahun 1948.

Pejuang-pejuang Palestina terus berguguran demi mempertahankan martabat bangsanya. Mereka tak gentar dan takut mesti nyawa taruhanya.

Jika kita ingat perjuangan kanjeng nabi Muhammad Saw dalam pembebasan Makkah di sana ada Ibunda Khadijah, orang yang pertama menyatakan beriman dan membenarkan dakwah kanjeng nabi Muhammad Saw. Ibunda khadijah membela kanjeng nabi dengan jiwa dan hartanya.

Ada Aisyah yang banyak meriwayatkan hadits dari kanjeng nabi baik dari perkataan beliau maupun kebiasaan-kebiasaannya.

Ada juga Sumayyah dikenal sebagai tokoh wanita yang diakui jihadnya. Sikapnya yang tegas ketika menolak permintaan kaum Quraisy supaya meninggalkan Islam, Sumayyah memilih syahid.

Masih banyak lagi tokoh-tokoh perempuan hebat lainya yang ditulis tinta sejarah.

Islam memposisikan perempuan pada kedudukan yang mulia. Perempuan di ibaratkan sebagai tiang kehidupan bangsa, negara bahkan agama.

Maka ambilah peran yang bisa kita lakukan untuk bangsa yang tercinta ini.

Berikan kontribusi sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas diri.

In Shaa Allah nama -nama kita akan di tulis oleh tinta sejarah dalam berkontribusi untuk bangsa dan agama.

Wallahu A’lam Bishowab

Jaga Allah, maka Allah akan menjaga mu

Makna kalimat diatas bukan semata-mata bahwa Allah sangat bergantung pada hambanya, akan tetapi Allah sangatlah mengaharapkan kecintaan makhluknya terhadap diriNya, jadi sekali lagi bahwa Allah tidak sama sekali mengharapkan kekuatan dan kelebihan dari seorang hamba karena tanpa dari kekuatan dari manusia dan makhukNya Allah masih tetap besar dan agung dengan segala kekuatan dan kebesaranNya.

Sedikit yang saya sampaikan ialah pada saat saya menjadi seorang mahasiswa semester empat aktif di organisasi dan juga tak lupa pada kesempatan kali ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1439 H. Dengan aktifnya kuliah dan organisasi beserta dengan menjalankan ibadah puasa yang mengharuskan dan mengeluarkan tenaga lebih agar dapat selalu aktif dari berbagai kegiatan. Pada awal-awal puasa tubuh ini masih dapat menahan dari kesibukan aktivitas akan tetapi pada hari ke-15 tubuh ini mulai merasakan kelelahan yang hebat yang dimulai dengan bersin, tubuh meriang, pusing dan kaki yang cenat-cenut, tidak tau mengapa tubuh ini bereaksi seperti ini apa karena terlalu sibuk atau karena pada saat hari rabu minggu kedua saya melakukan aktivitas fisik yang cukup berlebihan, aktivitas yang dimaksud ialah kegiatan seperti jogging dan gowesan yang memang benar-benar menguras tenaga, tujuan dari kegiatan ini ialah supaya tubuh menjadi lebih sehat, akan tetapi tidak sesuai ekspentasi malah dua hari setelah melakukan kegiatan tersebut tubuh langsung drop dan tidak dapat banyak melakukan kegiatan di kampus dan juga organisasi karena terkendala tunuh yang kurang fit.

Banyak hikmah yang saya dapatkan dari peristiwa ini pertama yaitu jangan berlebihan terhadap aktivitas yang dilakukan seperti pada saat puasa jangan terlalu banyak melakukan kegiatan fisik, kedua bahwa pada saat diri kita sakit dan disitu juga di uji kesabaran kita karena tidak semua orang-orang sekitar akan peduli karena mereka memiliki kegiatan masing-masing yang harus di selesaikan, ketiga bahwa libatkan lah selalu Allah dalam setiap kegiatan yang kita lakukan karena Dia lah yang mengetahui apa yang terjadi di masa depan kita, sebagai orang yang beriman dan percaya terhadap kemahaagungan Tuhan maka wajib bagi kita untuk selalu bersandar diri terhadapNya.

Hidup ini banyak yang mengatakan tak adil karena kita tidak pernah sedikitpun berpikir bagaimana sebab dan akibat dari apa yang kita lakukan, seperti yang saya lakukan tanpa berpikir panjang terhadap hari esok maka saya pun 2 hari penuh di kosan untuk memulihkan tubuh, ini merupakan salahsatu contoh kecil dari berbagai kegiatan manusia yang dilakukan tanpa berpikir panjang tanpa tau dari akibat yang dilakukan, banyak contoh lain yang sering dilakukan oleh manusia yang sekarang ini yang dianggap biasa bahkan di bangga-banggakan seperti pergaulan bebas, perselingkuhan, korupsi, dan sebagainya yang tentu pasti kelak akan merugikan diri sendiri dan juga orang sekitar.

Dari berbagai peristiwa di atas semoga kita dapat mengambil hikmahnya karena tentu bahwa kekuatan dariNya memang merupakan energi yang tidak dapat kita sangka-sangka. Meskipun antara judul dan isi sedikit agak tidak nyambung karena biasanya judul diatas identik dengan ibadah yang kita lakukan seperti solat, akan tetapi karena sekarang bulan suci ramadhan semua kegiatan di nilai ibadah oleh Allah maka tak salah jika dari setiap kegiatan yang kita lakukan pasti mendapatkan ridho pahala dari Nya, yuk istiqomah dalam ibadah di bulan Suci Ramadhan 1439 H ini. (

Salam Literasi

Heru Desembri

Sebuah Perjalanan, 02 Juni 2018

SANG MOTIVATOR

M.Sadli Al-Fadlim S.Pd.i adalah anak yang terlahir dari rahim seorang wanita petani yang berpenghasilan dibawah standar.Akan tetapi,beliau tidak jadikan itu sebagai alasan untuk tidak mengenyam pendidikan,walaupun pada dasarnya beliau seorang yang paling nakal didusunnya.

Beliau sosok seorang guru yang pantas untuk dicontohi oleh kita semua karena tidak semua orang yang nakal dan anak dari seorang petani yang lolos menyentuh pendidikan sampai S2,beliau pernah berkata sepatah kata terhadap saya “dik,ikuti kata hatimu,jadikanlah ocehan orang-orang itu dan jadikan sebagai motivasi mu sendiri ” begitu kata belau kepada saya karena kebetulan saya adik sepupu beliau yang mengiku perjalanan beliau didunia pendidikan.

Seiring waktu berjalan tidak terasa beliau selesaikan S1 nya dan melanjutkan studi beliau ke jenjang yang lebih tinggi lagi di malang (UIN MALANG).

Satu tahun berlalu beliau berikan kabar kepada saya dan beliau berkata,”dik,saya sudah ACC bentar lagi saya pulang”.dari perkataan beliau,saya merasa bangga mempunya seorang kakak walau hanya sebatas sepupu saja akan tetapi saya bersyukur karena ada yang akan membibing saya menjadi orang yang lebih baik sebelumnya.

Sungguh luar biasa beliau dan beliau pantas disebut seorang GURU dan sang MOTIFATOR karena beliau juga seorang pendiri komunitas muda mengajar lombok yang dimana komunitas tersebut lebih fokus ke pendidikan.

Indra Jayadi

Buka Puasa

Buka puasa memang menjadi momen-momen paling berharga di tiap Ramadhan. Aku sempat mendengar sebuah celetukan lucu dari seorang teman, puasanya baru mulai tapi jadwal buka bersamanya sudah satu bulan. Yap, karena begitu berharganya saat-saat tersebut.

Mengingat juga pernah aku dengar kalau kita memberi makan orang yang berpuasa, kita seperti mendapat pahala orang yang berpuasa tersebut.

Nah ngomong-ngomong soal buka puasa, jurusanku di kampus ini mengadakan sebuah kegiatan buka puasa bersama diawali dengan tausyiah dari ustad yang cukup kondang di kampusku, yang juga seorang dosen. Beliau membawakan tausyiah tentang mengoptimalisasikan puasa kita di era digital ini.

Menurut beliau, Ramadhan itu identik dengan Al Quran, karena di bulan inilah Al Quran diturunkan. Tepatnya pada 17 Ramadhan. Kisah-kisah para ulama terdahulu, seperti Imam Syafi’I dan Imam Malik, mereka meliburkan majlis ilmu mereka demi mendekatkan diri dengan Al Quran. Dalam tausyiah yang beliau sampaikan, Imam Syafi’i mengkhatamkan Al Quran di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.

Maka, dalam ceramahanya, beliau menyampaikan nasehat untuk mengoptimalisasikan Ramadhan ini dengan mendekatkan diri dengan Al Quran.

Lalu, apa kaitannya dengan era digital? Hampir bisa dipastikan setiap dari kita, generasi milenial ini, memiliki smartphone. Smartphone itulah sarana yang bisa digunakan untuk mendekatkan diri dengan Al Quran, dengan menginstal aplikasi Al Quran di dalamnya. Nah dengan begitu, kedekatan kita bisa dilakukan dimana dan kapan saja.

Namun, ada kendala yang biasanya dimiliki oleh orang-orang. Salah satunya adalah, kalah oleh keinginan untuk membuka sosmed. Beliau dalam ceramahnya juga menuturkan, ada dua alasan kenapa kita seringnya lebih suka membuka sosmed daripada membuka Al Quran. Yang pertama adalah, kita tidak bisa menikmati Al Quran. Salah satu cara menikmati Al Quran adalah dengan memahami dan memaknai setiap kata dan kalimat yang ada di dalamnya.

Alasan kedua adalah, hati kita bisa jadi kotor. Kotor oleh amalan maksiat, kotor oleh berbagai penyakit hati. Maka, beliau pun menyarankan agar di bulan ini untuk senantiasa membersihkan hati kita dari hal-hal tersebut.

Kemudian tausyiah tersebut diakhiri dengan buka bersama oleh seluruh civitas akademika.

Blog at WordPress.com.

Up ↑